War Takjil Ramadan 2026 Masih Ramai, Tapi Pedagang di Bogor Keluhkan Pembeli Tak Seramai Dulu – Harga Bahan Pokok Naik Tekan Omzet

Jakarta/Bogor, 9 Maret 2026 – Fenomena “war takjil” alias berburu makanan berbuka puasa di pasar dadakan dan pinggir jalan tetap menjadi ciri khas Ramadan 2026 di Indonesia. Namun, sejumlah pedagang di pusat takjil Jalan Bangbarung, Bogor Utara, mengaku antusiasme pembeli tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya meski penjual semakin banyak bersaing.

Pedagang gorengan dan es campur di lokasi itu menyatakan omzet harian turun sekitar 20-30% dibandingkan minggu pertama Ramadan tahun lalu. “Pembeli masih ramai, tapi tidak ‘war’ seperti dulu. Banyak yang beli secukupnya saja karena harga bahan naik,” ujar seorang pedagang gorengan berinisial S, 42 tahun.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan harga cabai rawit merah naik hingga 9,54% menjadi Rp83.850/kg di awal Ramadan, sementara bawang merah dan minyak goreng juga merangkak naik. Meski demikian, banyak pedagang takjil di Jakarta Barat memilih tidak menaikkan harga jual, malah mengganti cabai dengan bumbu kacang atau varian lain untuk jaga pelanggan.

Takjil Modern Naik Level Jadi Primadona – Inovasi Estetik dan Kekinian Dorong UMKM Cuan Di sisi lain, tren takjil kekinian atau “trendy takjil” diprediksi mendominasi Ramadan 2026. Jajanan estetik seperti roti jala kari ayam Medan, dessert fusion ala Prancis dengan sentuhan lokal (kolak matcha atau es buah premium), hingga minuman viral dengan topping kekinian ramai diburu di Blok M, Jakarta, dan pasar Ramadan di berbagai kota.

UMKM makanan memanfaatkan momen ini dengan kreasi inovatif yang viral di media sosial, seperti takjil sharing pack untuk buka puasa bersama. “Margin bisa 30-60% karena pembeli tidak pikir panjang soal harga selisih Rp1.000-2.000. Omzet harian bisa tembus Rp1 juta di lokasi ramai,” kata seorang pemilik booth takjil di Jakarta Selatan.

Bank Danamon Indonesia melaporkan lonjakan transaksi digital selama jam berbuka, terutama untuk pembelian takjil dan catering buka bersama, sebagai dampak tradisi berburu takjil yang mendorong belanja masyarakat.

Gorengan Tetap Raja Takjil – Filosofi Tak Tergantikan Meski Ada Tantangan Kesehatan Meski takjil modern naik daun, gorengan tetap jadi pilihan utama di hampir semua pasar takjil. Filosofi “hangat, murah, dan mengganjal” membuatnya tak tergantikan, meski ada kekhawatiran kesehatan akibat minyak goreng yang sering dipakai ulang. Pedagang mengaku tetap laris karena “aroma minyak panas” yang menggoda saat ngabuburit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *